Di era media sosial yang serba cepat, personal branding tidak lagi dibangun lewat kartu nama atau CV, melainkan melalui konten digital. Namun, muncul satu dilema besar bagi kreator, profesional, dan brand personal yaitu lebih efektif mana konten sensasi atau konten edukatif?
Pertanyaan ini relevan di tengah algoritma platform yang sering kali “menghadiahi” konten viral, tetapi di sisi lain menuntut kredibilitas jangka panjang.
Memahami Konten Sensasi dan Konten Edukatif
Konten sensasi adalah konten yang mengandalkan emosi kuat kejut, marah, takut, atau penasaran untuk menarik perhatian. Judul provokatif, konflik, drama, dan clickbait sering menjadi cirinya. Sementara itu, konten edukatif berfokus pada nilai informasi berbagi wawasan, pengalaman, data, atau keahlian yang relevan dan aplikatif bagi audiens.
Keduanya sama-sama efektif dalam konteks tertentu, tetapi dampaknya terhadap personal branding sangat berbeda.
Baca Juga: 7 Pattern Konten Viral yang Bukan Sekedar Trending: Dari Views ke Konversi Nyata
Kekuatan Konten Sensasi: Cepat Viral, Cepat Lupa
Tidak bisa dipungkiri, konten sensasi unggul dalam jangka pendek. Algoritma media sosial cenderung mendorong konten dengan engagement tinggi, dan sensasi sering memicu komentar serta share. Media nasional seperti Kompas menyoroti bagaimana konten viral berbasis sensasi dapat menciptakan lonjakan popularitas instan, namun sering kali tanpa makna jangka panjang.
Masalahnya, personal branding yang dibangun dari sensasi cenderung rapuh. Audiens mungkin mengenal wajah atau nama Anda, tetapi tidak memahami nilai, keahlian, atau positioning Anda. Ketika sensasi mereda, awareness pun ikut turun.
Kekuatan Konten Edukatif: Lambat tapi Berkelanjutan
Sebaliknya, konten edukatif jarang langsung viral, tetapi unggul dalam jangka panjang. Riset dari Harvard Business Review menegaskan bahwa kredibilitas dan trust adalah fondasi utama reputasi profesional. Konten yang konsisten memberi nilai nyata akan membangun persepsi sebagai ahli (authority) di bidang tertentu.
Audiens yang datang lewat konten edukatif biasanya lebih loyal, lebih engaged secara kualitas, dan lebih berpotensi menjadi klien, partner, atau komunitas. Inilah mengapa banyak profesional dari konsultan, akademisi, praktisi bisnis memilih jalur ini untuk personal branding.
Mana yang Lebih Baik untuk Personal Branding?
Jawabannya bukan hitam-putih. Tujuan personal branding menjadi faktor penentu.
-
Jika tujuan Anda popularitas cepat (misalnya awareness awal), konten sensasi bisa menjadi pintu masuk.
-
Jika tujuan Anda reputasi, kepercayaan, dan peluang jangka panjang, konten edukatif jauh lebih unggul.
Menariknya, jurnal komunikasi digital terbaru dalam Journal of Computer-Mediated Communication (2023) menunjukkan bahwa kombinasi emosi ringan dalam konten informatif menghasilkan performa terbaik konten tetap menarik, tetapi tidak kehilangan substansi.
Strategi Ideal: Edukatif yang Relevan dan Humanis
Strategi paling efektif untuk personal branding saat ini adalah mengemas konten edukatif dengan pendekatan yang relatable, bukan sensasional. Gunakan storytelling, studi kasus nyata, atau insight personal untuk membuat edukasi terasa hidup. Dengan begitu, Anda tetap relevan dengan algoritma tanpa mengorbankan integritas brand personal.
Konten sensasi boleh digunakan secara terbatas sebagai “hook”, tetapi nilai utama harus tetap edukatif. Inilah cara membangun personal branding yang tidak hanya dikenal, tetapi juga dihargai.
Baca Juga: Affiliate Capek Bikin Konten, Brand Tinggal Panen: Salah Siapa?
Kesimpulan
Konten sensasi mungkin membuat Anda viral hari ini, tetapi konten edukatif membuat Anda dipercaya esok hari. Untuk personal branding yang kuat, berkelanjutan, dan bernilai, konten edukatif adalah fondasi terbaik, sementara sensasi hanyalah alat pendukung bukan tujuan utama.
