Cancel culture creator kini menjadi risiko nyata dalam kolaborasi brand dan content creator. Di era media sosial yang serba cepat, satu kontroversi yang melibatkan seorang creator dapat dengan mudah menyeret brand yang bekerja sama dengannya. Kolaborasi yang sebelumnya dianggap efektif untuk menjangkau audiens digital, kini juga menyimpan ancaman reputasi yang serius.
Fenomena ini membuat publik tidak hanya menilai individu, tetapi juga entitas yang terasosiasi dengannya. Brand seringkali dipersepsikan ikut bertanggung jawab secara moral ketika creator terlibat isu sensitif. Akibatnya, fenomena ini tidak lagi sekadar isu sosial, melainkan realita bisnis yang berdampak langsung pada citra, kepercayaan, dan keberlanjutan brand di ruang digital.
Cancel Culture Creator dan Perubahan Relasi Brand–Creator
Cancel culture creator mengubah cara audiens memandang hubungan antara brand dan content creator. Brand tidak lagi dianggap sebagai pihak netral, melainkan bagian dari sistem nilai yang diwakili oleh creator tersebut. Ketika seorang creator terlibat kontroversi, publik sering melakukan guilt by association, yaitu mengaitkan tindakan creator dengan brand yang mendukungnya.
Menurut Journal of Digital Media Ethics (2024), audiens digital cenderung menilai brand berdasarkan afiliasi sosialnya, bukan hanya produk atau layanannya. Hal ini membuat relasi brand–creator menjadi lebih sensitif dan sarat risiko reputasi dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Content Burnout: Masalah Serius yang Jarang Dibahas Creator Digital
Dampak Cancel Culture Creator terhadap Reputasi Brand
Dampak cancel culture creator terhadap reputasi brand dapat terjadi dengan sangat cepat. Dalam hitungan jam, sentimen negatif dapat menyebar melalui media sosial, pemberitaan digital, dan diskusi publik. Reuters Digital News Report (2025) mencatat bahwa krisis reputasi yang dipicu figur publik menyebar lebih cepat dibandingkan krisis korporasi konvensional.
Bagi brand, risiko ini tidak berhenti pada persepsi sesaat. Konsumen modern melihat brand sebagai entitas bernilai, bukan sekadar penyedia produk. Ketika brand dianggap lambat atau ambigu dalam merespons kontroversi creator, kepercayaan publik dapat menurun secara signifikan dan berdampak pada loyalitas jangka panjang.
Strategi Brand Menghadapi Cancel Culture Creator
Menghadapi cancel culture creator, brand perlu lebih selektif dan strategis dalam memilih mitra kolaborasi. Jumlah pengikut dan engagement tidak lagi cukup menjadi indikator utama. Harvard Business Review (2024) menekankan pentingnya keselarasan nilai antara brand dan creator untuk meminimalkan risiko reputasi.
Selain seleksi, kesiapan krisis juga menjadi faktor krusial. Brand perlu memiliki protokol komunikasi yang jelas, cepat, dan empatik. Journal of Strategic Communication (2025) menunjukkan bahwa kecepatan dan nada respons brand sangat memengaruhi arah opini publik dalam situasi cancel culture.
Pendekatan jangka panjang juga mulai diadopsi, di mana brand membangun hubungan yang lebih dalam dengan creator yang memiliki rekam jejak stabil dan kredibilitas tinggi, bukan sekadar kolaborasi sesaat.
Baca Juga: Vulnerability Marketing dalam Industri Kecantikan: Standar Baru Beauty Marketing di 2026
Kesimpulan
Cancel culture creator telah mengubah lanskap kolaborasi brand secara fundamental. Satu kontroversi tidak lagi berhenti pada individu, tetapi dapat dengan cepat menyeret brand yang terasosiasi dengannya. Dalam realita ini, brand dituntut lebih sadar nilai, lebih siap menghadapi krisis, dan lebih strategis dalam membangun relasi dengan creator.
Cancel culture bukan hanya ancaman reputasi, tetapi juga pengingat bahwa brand di era digital hidup di ruang publik yang transparan dan reaktif. Brand yang mampu memahami dinamika ini dan merespons dengan tepat akan memiliki daya tahan reputasi yang lebih kuat di tengah ekosistem media sosial yang sensitif.
